Saturday, January 26, 2008
Soeharto, Hanya Tiga Puluh Detik
Beberapa televisi lainnya, live menayangkan seorang reporter yang terbata-bata menyiarkan kematian Soeharto bukan karena berduka, tapi shock bak mendapatkan durian runtuh, breaking news! Setelah berhari-hari menunggu di Rumah Sakit. Seru, melihat reporter yang tak siap menceritakan peristiwa yang seharusnya disiiarkannya dengan lancar untuk pemirsanya. Beberapa kalimat terulang-ulang, menutupi ketidaksiapannya untuk menyampaikan informasi tambahan yang memang tak dimilikinya.
Tak ada orang bergerombol di depan televisi, hanya beberapa gelintir orang yang berdiri di depan televisi. Tak lama, setelah itu, mereka ngeloyor pergi untuk berbelanja kembali, bukan berita penting, seorang berujar pada teman belanjanya "Soeharto meninggal dunia". Si teman cuek ia sedang konsentrasi memilih barang-barang yang dipajang.
Tiga Puluh Tahun berkuasa. Hanya Tiga Puluh detik orang berkerubung mendengarkan beritanya, itu pun tak lebih dari Tiga Puluh orang.
Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesugguhnya hanya kepada Allah kita kembali.
Monday, January 14, 2008
Menuntaskan “Mimpi” Chairil Anwar
Tahu itu, Chairil mengajak si Usmar ke Stasiun Senen. Usmar heran namun sebelum sempat bertanya, si Chairil lebih dulu berujar, “Dari begitu banyak orang yang lalu lalang di stasiun pasti ada uang terjatuh”.
Usmar tersenyum kecut, tapi kenapa tidak dicoba? Dua karib itu akhirnya berjalan bolak-balik di sepanjang stasiun. Waktu makan siang lewat. Tak ada uang satu sen pun yang tercecer. Mereka berdua tetap lapar hingga saatnya makan malam.
Mendengar cerita itu, saya tertawa ngakak. “Gila, benar-benar seniman”. Menjalani hidup dengan kegembiraan, mencoba segala kemungkinan. “Bener-benar seniman gila!”.
++++++++
Malam satu suro, tahun baru Jawa, saya kebetulan ada acara workshop modul di Lor in Solo. Untuk merayakan malam pergantian tahun jawa, warga Solo biasanya jalan kaki membisu, mengelilingi tembok Keraton dan atau kirab bersama Kyai Slamet. Nah, kyai yang satu ini di Solo kemashurannya mengalahkan kemashuran para kyai khos kalangan warga NU. Tingkat kesederhanaanya juga mengalahkan cara hidup kyai yang paling sederhana di penjuru
Nah, sebagai orang Jawa, malam itu saya putuskan untuk melakukan tradisi jalan kaki. Tapi karena jarak tempat menginap dengan keraton jauh, maka saya menetapkan rute jalan kaki dari hotel ke warung makan, ngisi perut dulu. Usai makan, jalan kaki lagi menjauh dari hotel, baru balik ke hotel bila kaki sudah terasa pegel, tentunya sambil tetap dengan jalan kaki. Yang jelas dengan jalan kaki mandiri, rute sendiri, saya tak harus ngekor kyai Slamet yang telanjang bulat.
Baru 10 langkah dari warung makan, saya melihat “segulung” uang seribuan tergeletak di pinggir jalan. Saya pungut sambil coba menaksir berapa banyak uang ribuan yang tergulung kumuh itu, di bawah penerangan lampu jalan yang temaram. Rp 6 Ribu. Saya masukkan ke kantong celana.
Perjalanan menjauh dari hotel dilanjutkan. Saya tersenyum teringat cerita jenaka Chairil Anwar dan Usmar Ismail. "Chairil, mimpimu telah saya tuntaskan".
Enam Ribu bagi beberapa orang memang tak seberapa. Tapi bagi yang kehilangan, uang tersebut bisa jadi sangatlah berharga. Menyerahkan uang temuan Rp 6 Ribu ke kantor polisi, pasti diketawain. Saya hanya bisa berdoa semoga Allah mengganti yang lebih baik dan banyak kepada orang yang uangnya saya temukan.
Sambil kungkum di bathtub, saya membuat catatan. “Cara terbaik untuk memicu otak berpikir sekaligus merenung adalah dengan berjalan kaki. Ia membuat kita tetap menapak di bumi ketika mata memandang jauh ke depan dan mendongak tinggi ke langit”.
Dan kesimpulan sementara pelajaran dari perjalanan 1 suro ini adalah :-Chairil Anwar tidak menemukan uang karena mencari di tempat yang salah.
-Jalan kaki di samping menyehatkan juga dapat mendatangkan uang.
-Jangan bercita-cita kaya dengan cara cari uang yang jatuh di jalan, cuma dapet 6 Ribu!
Cerita akan bersambung...Insya Allah.
Wednesday, January 2, 2008
2008
Beli notes agenda kerja 2008. Males juga, paling rajin nyatat-nyatat hanya ampe Maret. Setelah itu, entah terselip dimana.
Bikin target baru, resolusi 2008. Hemm enggak ah, taon kemarin nggak ada yang kesampaian dari mo ngubah perilaku juga nggak bisa-bisa, ya udah ngalir aja ampe 2009, moga dikasih rizqi lebih banyak, kesehatan yang prima dan diampuni dosa-dosanya.
Cari kerjaan baru, nah ini harus. Mulai bosen kerja pada hal dan tempat yang sama selama dua tahun, biasa... siklus dua tahunan, tapi mau kerja apa ya? Mau buka warung kelontong ato warung makan atawa percetakan hemmm ntar aja deh, ngalir... waks, ada lowongan sopir taksi, menantang untuk dicoba nih....
Sunday, December 30, 2007
Hilangnya Sawah Kami
“Ya, makan roti.”
“Hahaha..,” Aku tak bisa menahan tawa mendengar jawaban dari bocahku yang kini duduk di TK nol kecil. Alih-alih mau melatih nalar kritis, untuk menerangkan bahwa roti dibuat dari gandum yang juga dipanen dari ladang untuk bocah seusianya, aku sudah kebingungan.
Ya udah, akhirnya aku beralih ngobrol dengan petani baik hati yang mengizinkan ladangnya menjadi tempat bermain bocahku. Petani pemilik tanah seluas tiga bahu itu bercerita bahwa tanahnya sedang ditawar orang
“Iya Bu, eman-eman, bisa-bisa semua tanah nanti jadi milik orang
Sebagai wong ndeso, walupun tidak sempurna karena tak punya lahan dan mencangkulpun tak bisa, aku masih saja ngeman-ngeman bila tanah petani satu persatu berpindah kepemilikannya. Beralih profesi menjadi pekerja pabrik, kuli bangunan, pembantu atau tetap menjadi petani tetapi hanya sebagai buruh penggarap, landless.
Sebagai rakjat jelata, aku tak habis pikir kenapa pemerintah negeri agraris ini tak pernah benar-benar peduli terhadap kesejahteraan petani. Pada 1984 dan konon juga 2004, para petani menjadikan negeri ini ber-swasembada pangan (beras), tapi nasib mereka baik pada 1984 mauapun 2004 tetap aja swarba swusah sampai sekarang.
Dibandingkan dengan petani di
Salah satu penyebab rendahnya pendapatan petani kita konon karena keterbatasan lahan. Saat ini, lahan pertanian kita cuma 8 Juta hektar dengan jumlah 40 Juta oetani. Bila dirata-rata, maka tiap petani hanya memiliki lahan 0,2 atau 1/5 hektar. Padahal, menurut ahli skala ekonomi, untuk tanaman pangan, khususnya padi, kepemilikan lahan minimal agar petani sejahtera adalah 2 hektar. Itupun dengan asumsi minimal harga gabah kering Rp 1000 per Kg, kurs 1 dolar Amerika sama dengan Rp 9000 dan tiap hektarnya menghasilkan 2 ton gabah kering. Bila itu terwujud maka petani kita menurut standart Bank Dunia baru bisa masuk ke level middle income, nyaris mendekati
Tapi, alih-alih melakukan land reform, mengusahakan lahan pertanian untuk petani. Dengan lahan sawah yang cuma 8 Juta hektar, pemerintah malah membiarkan pencaplokan tanah untuk disulap menjadi pabrik. Lantas apakah arti dari pernyataan Presiden SBY soal ketahanan pangan, memperbaiki pendapatan petani, dan pembangunan sektor pertanian? Kalau hal itu aku tanyakan pada bocahku, pasti jawabannya tak kalah lucu dengan jawaban pemerintah.
Berjalan pulang, dalam batin aku berharap semoga sawah itu tak dijual untuk diubah menjadi pabrik. Dalam hitunganku telah 5 buah bangunan pabrik yang berdiri di sekitar lahan pertanian di desa kami, 1 buah pabrik dalam proses pembangunan. Itu berarti selain lahan pertanian berkurang, cerobong-cerobong yang menyemburkan asap hitam akan lebih banyak kulihat saat duduk santai melepas penat di beton atap rumah pada sore sepulang memburuh dari kota.