Wednesday, August 1, 2007

Amplop untuk Wartawan (1)

Kondisi sosial politik Indonesia pasca orde baru memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk mengawasi pemerintah yang berkuasa. Namun, tak berjalan efektif.

Terbukti, berbagai kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan prinsip demokrasi tetap saja terjadi. Berbagai praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi biang kerok kehancuran perekonomian Indonesia juga tetap tinggi.

Dalam kondisi semacam itu idealnya pers, sebagai salah satu pilar demokrasi dan alat kontrol sosial, meneguhkan perannya dengan melancarkan berbagai kritik obyektif demi terwujudnya pemerintahan yang bersih, efektif dan efesien.

Namun peran ideal itu sulit dilakukan pers Indonesia karena dalam waktu yang bersamaan, jurnalis juga sibuk berjuang menghadapi berbagai tekanan yang menumpulkan sikap obyektif, independen, dan kritis mereka.

Ada dua macam persoalan yang dapat menumpulkan sikap kritis, indepen dan obyektifitas jurnalis. Pertama, datang dari kondisi internal, yakni lemahnya posisi tawar jurnalis di hadapan manajeman perusahaan pers. terlihat pada rendahnya gaji yang diterima dan diabaikannya aspirasi mereka. Jika memprotes kondisi itu, maka ancaman pemecatan akan segara datang. Anehnya, untuk menghadapi persoalan semacam ini, wartawan ogah membentuk serikat pekerja. Sebagian besar jurnalis, pasrah, mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Yang paling fatal, untuk menutupi kebutuhan hidup yang tak cukup dengan gaji dari perusahaan, beberapa wartawan menerima dan mencari amplop.

Persoalan kedua yang dihadapi oleh jurnalis, berkaitan dengan belitan gurita korupsi yang sangat kuat mengakar ke setiap sektor. Termasuk di dalamnya sektor pers atau media massa.
Berdasar penelitan, 1999-2000, uang negara sebanyak Rp 864 miliar yang dialokasikan kepada 64 BUMN, ludes tanpa bisa dipertanggungjawabkan hanya untuk dana pembinaan (baca: amplop) wartawan yang diberikan secara periodik tiap bulan dan pada setiap acara konferensi pers.

Anggaran “pembinaan” wartawan itu, diambilkan langsung dari departemen yang diajukan melalui RAPBN oleh Sekjen dan Direktur Keuangan ke Depkeu untuk digabung menjadi belanja pemerintahan pusat. Dalam tampilan satuan satu di APBN, dana pembinaan wartawan disamarkan sebagai anggaran belanja barang pemerintahan pusat guna pembelian alat tulis kantor (ATK).

Berdasarkan catatan AJI Indonesia yang dihimpun dari 18 AJI kota dan biro, terlihat bahwa pada setiap Anggaran Belanja dan Pembangunan Daerah (APBD), selalu dialokasikan anggaran yang disebut sebagai dana pembinaan wartawan.

Sebagai sebuah gambaran, Pemerintah Propinsi (Pemprop) Bali pada tahun anggaran 2000-2001 mengalokasikan dana pembinaan wartawan sebanyak Rp 100 juta guna merehabilitasi gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Pemprop Sulawesi Utara (Sultra), menurut catatan AJI Kota Kendari, pada tahun anggaran 2000/2001 tidak menganggarkan dana secara khusus bagi wartawan. Namun setiap konferensi pers sekretariat Pemprop membagikan amplop kepada tiap wartawan yang meliput sebesar Rp 100 ribu per wartawan. Hal itu memang agak berbeda dengan tahun anggaran 1999/2000, yang menyediakan dana khusus untuk pembinaan media dan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Sedang menurut catatan AJI Biro Lampung, pada APBD 2001 Pemprop mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 100 Juta untuk rehabilitasi gedung PWI Cabang Lampung. Uniknya dana itu diambilkan dari pos pembinaan dan pengawasan aparatur di bawah Dinas Pembangunan dan Pemukiman. Di samping itu, DPRD I Lampung setiap bulan membagikan amplop berisi sedikitnya Rp 200 ribu untuk 12 wartawan yang ngebeat.Sedang Pemprop Lampung melalui Biro Humas Setwilda, setiap bulannya juga membagi amplop untuk 50 jurnalis masing-masing sebesar Rp 50 ribu.

Menurut AJI Kota Semarang, Pemprop Jawa Tengah (Jateng) dalam APBD 2001 menganggarkan dana sebanyak Rp 100 juta untuk wartawan yang ngepos di DPRD I Jateng. Dana tersebut kemudian dibagi Rp 20 juta untuk Forum Wartawan Pemda Jateng (FWJT), Rp 30 juta untuk PWI, Rp 40 juta untuk kelompok wartawan lainnya, dan Rp 20 juta untuk seminar yang akan diselenggarakan oleh FWJT. Selain itu, FWJT juga mendapat bantuan mobil dinas Colt T-300 dari Gubernur yang digunakan untuk liputan. Mobil dinas berplat merah ini, bertuliskan Forum Wartawan Pemda Jateng.

Seakan tidak mau kalah, Pemkot Semarang dalam APBD 2001 juga menganggarkan dana pembinaan wartawan sebanyak Rp 83.896 ribu yang dirinci sebagi berikut. Bantuan untuk media cetak Rp 14 juta, bantuan media elektronik Rp 10 juta, bantuan operasioanl siaran langsung Rp 34.898 ribu, forum interaktif media Rp 25 juta, dana pengelolaan Rp 1 juta, dan persiapan untuk itu semua dianggarkan Rp 1,5 juta.

Pemkot Semarang juga memberikan uang amplop secara berkala kepada redaksi kota atau kepala biro antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta bila medianya rutin menayangkan berita-berita pembangunan Kota Semarang.

Sebenarnya, masih banyak data yang dapat dikumpulkan berkaitan dengan jatah amplop yang biasa pula disebut sebagai dana pembinaan wartawan itu, karena hampir setiap instansi pemerintah, mulai dari Tk II hingga pusat, selalu mengalokasikan anggaran untuk waratawan. Uniknya dana itu juga selalu diambil dari alokasi APBD yang seharusnya dikonsentrasikan penuh untuk pembangunan rakyat.

Yang lebih parah lagi, anggaran yang disebut sebagai dana pembinaan wartawan tak pernah dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Hal itu sebenarnya wajar saja, karena memang tidak mungkin dapat dipertanggungjwabkan.

Bisa dibayangkan berapa banyak uang negara yang didapatkan dari keringat rakyat dan hutang ke bank dunia, atau semacamnya, amblas begitu saja untuk sebuah program pembinaan yang konyol. Menggaji wartawan yang jelas-jelas bukan pegawai negeri. Pegawai sebuah perusahaan pers yang telah mereguk banyak untung dari industri informasi.

Bisa jadi dana amplop yang diterima dengan gembira oleh wartawan, sebenarnya berasal dari hutang Bank Dunia yang karenanya tiap bayi Indonesia pada tangis pertamanya, harus menanggung beban hutang kakek dan neneknya sebesar Rp 7,3 juta.
------------------------------------------------
Ini merupakan tulisan lama saya yang pernah dimuat di Majalah Independent

Monday, July 30, 2007

The Power of Dream

Mengubah impian menjadi kenyataan itulah tekad yang tercermin dalam slogan korporat Honda the power of dream. Menerabas ruang yang semula dianggap mustahil menjadi hasil! Honda bisa jadi adalah perusahaan yang dibangun di atas kekuatan mimpi.

Maka meluncurlah berbagai impian itu memenuhi jalan-jalan. Kelibat bayangannya tak lagi cuma menggantang di awan dan buian yang hanya bisa dinikmati oleh sang pemimpi.

Bahkan, ketika kebanyakan orang baru pada tingkat “berencana” mimpi soal mobil cantik, canggih, irit dan ramah lingkungan maka “Honda sang pemimpi” pun, segera menjelmakannya dalam Honda Insight yang hanya memerlukan seliter bensin untuk melahap jarak 34,97 km. Dan itulah the power of dream!

Karena itu setiap manusia selayaknya memiliki mimpi hidup. Dengan keberanian bermimpi hidup akan bermakna lebih dalam, bergairah serta penuh warna. Ketika manusia berani dan berusaha mengejar mimpinya maka ia akan menjelma menjadi mahluk yang sangat bergairah.
Mimpi bak energi penghasil semangat yang mendorong kita bekerjasama dengan orang lain untuk mewujudkannya. Mimpi memberi kita kekuatan besar untuk mengatasi tantangan besar. Mimpi memberikan inspirasi kepada kita untuk menyebarkan kegembiraan mimpi kepada orang lain. Kekuatan mimpi adalah kekuatan kreatifitas yang mampu menghasilkan ide-ide cemerlang.
Bagi manusia, mimpi adalah sebuah energi yang mendorongnya terus bergerak di alam nyata. Untuk itu, memelihara keberanian untuk bermimpi tentang masa depan, tentang sesuatu yang dianggap tak lazim harus terus kita pelihara. Tanpa mimpi kita akan kehilangan energi. Bahkan saat fisik kita kepayahan hingga lelap dalam tidur, Tuhan pun memelihara semangat mimpi dengan menganugerahi kita mimpi.

Energi yang dihasilkan dari mimpi adalah sosok positif yang menganggap segala hambatan dan rintangan tak lebih dari sekadar bagian dari bunga mimpi yang indah. Ingat, hakekatnya tak ada mimpi yang total melenakan.
Dengan keberanian bermimpi kita juga menjadi sadar bahwa tiap orang memiliki mimpinya masing-masing, tak perlu melecehkan atau menghancurkan mimpi orang lain karena menghancurkan mimpi orang lain berarti kita telah mengahuncurkan energi, sumber kekuatan, dan kreatifitas hidup.

Bagi saya pribadi, mipi adalah bentuk kejujuran hati bahwa saya memiliki keinginan sebagaimana layaknya manusia lainnya yang tak bisa saya ingkari. Dan untuk itu saya harus mengerahkan segala daya guna mewujudkan impian tersebut. Yang jelas saya yakin dengan kekuatan mimpi, manusia akan menjadi kian kreatif dan dinamis.

Kalaupun boleh berharap mencampuri mimpi orang lain maka saya berharap setiap orang bermimpi tentang keindahan dan kedamaian bagi sesamanya.

“Aku ingin menjadi penjahat besar yang ditakuti!” pengakuan jujur Wahono , 14 tahun, seorang anak jalanan di Semarang. Bagi dia mungkin itulah mimpi terbesar yang ingin diwujudkannya. Apalah daya bagi Wahono kecuali bermimpi tentang itu.

“Wah, sekarang aku pingin jadi pilot pesawat terbang,” lontarnya beberapa hari kemudian setelah diajak seorang teman main melihat Bandara Ahmad Yani di Semarang. Semoga mimpi Wahono yang kedualah yang akan terwujud kelak!* Saya, lebih beruntung dari Wahono** tentunya.

Tak masuk akal bukan berarti tak mungkin diwujudkan. Pemimpi sejati yakin bahwa tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini.
--------------------------------------------
*Terima kasih untuk Bowo dan Novi yang telah mengajak Wahono 17 tahun yang lalu untuk berani bermimpi. Kawan, masihkah kita punya mimpi-mimpi, seperti waktu dulu?
**Wahono mungkin kamu tak juga jadi pilot. Tapi setidaknya kamu pernah bermimpi.

Wednesday, July 11, 2007

Menunggu Bintang Jatuh

Kawan,
Semalam saya takjub melihat ribuan bintang di langit, begitu indah. Nun agak jauh, saya melihat sambaran petir yang menyala terang, juga terasa begitu indah. Saya melangkah hati-hati di jalan setapak yang juga menjadi pemisah antara satu tambak dengan tambak lainnya, menapak pelan disinari cahaya bulan dan ribuan bintang.

Indah di langit, belum tentu indah di bumi. Bila mata saya begitu dimanjakan dengan keindahan taburan cahaya, maka hidung saya terasa sesak menahan bau amis ikan yang datang dari galengan tambak. Tidak hanya itu, hidung saya juga dipaksa membaui aroma parfum murahan.

Memang ikan pakai perfum? Tentu saja tidak. Bau parfum murahan itu datang dari puluhan perempuan paruh baya yang menjajakan layanan seks di areal tambak. Hemm, saya baru sadar kalau tambak ternyata tak hanya untuk budidaya ikan.

Tertarik? Cukup menyisihkan uang sebesar Rp 25 Ribu maka Anda akan mendapatkan pelayanan eksotik. Bersetubuh di atas tanah, di antara rerimbunan semak, beralas koran beratap ribuan bintang gemintang. Kalau tak punya uang dan tega menawar, dengan 10 Ribu pun Anda bisa menikmati layanan kelas ”bintang” itu. Santai aja, tak perlu takut dipatuk ular. Berdasarkan informasi relawan pendamping ibu-ibu penjaja seks (PS) di tambak itu, baru satu kasus pasangan yang dipatuk ular. Ular sungguhan!

Jadi berdasarkan statistik, tingkat risiko tergigit ular, saat bermain ”ular-ularan” sangatlah rendah. Cuma masalahnya, bisa jadi selamat tidak dipatuk ular sungguhan tapi ”ular” Anda dijamin tidak selamat dipatuk yang lain. Menurut Puji, relawan dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati, dari sekitar 35 ibu-ibu yang membudidayakan layanan seks di tambak itu, semuanya positif mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS). Jadi Anda bisa selamat dari patukan ular, tapi tidak dari patukan IMS.

Siti 43 tahun, bukan nama sebenarnya, salah seorang pembudidaya layanan seks di areal pertambakan yang terletak di Desa Bumirejo, Juwana, Pati itu, lelaki yang datang untuk main ular-ularan, kebanyakan adalah para penunggu tambak ikan dan para nelayan tradisional yang ada di sekitar tambak. ”Saya berangkat dari rumah setelah maghrib dan biasanya pulang jam sembilan. Kalau sedang ramai, bisa melayani Tujuh orang tamu”.

Tentunya tidak setiap malam ramai. Apalagi kalau sedang musim hujan. Kadang ia dan teman-temannya sama sekali tak mendapatkan tamu. Nah, daripada ”bobor” tidak dapat duit sama sekali, maka 10 Ribupun tidak masalah, yang penting besok masih bisa beli beras dan lauk pauk untuk bertahan hidup. Menawarkan kondom? Boro-boro. Para tamu selalu menolak untuk pakai itu, masak makan pisang dengan kulitnya, begitu dalih para tamu. Kalau tetap ngotot menawarkan pakai kondom, maka uang 10 Ribu pun akan melayang hilang.

Wow, rendah sekali kesadaran akan pentingya kesehatan. Bisa jadi iya. Tapi kesadaran untuk terus dapat makan agar tetap hidup Siti dan teman-temanya sangat tinggi.

Ribuan bintang di langit masih bercahaya indah saat saya hendak balik ke hotel. Hemm... adakah kita juga seperti bintang-bintang itu, indah dengan segala teori yang bercahaya. Namun sayang tetap saja di langit. ”Siti, maafkan kami, tak bersamamu di Bumi”.

Menunggu bintang jatuh dari langit.
Bak..
Menunggu Godot

Monday, July 9, 2007

Mari Bicara Seks!

Mohctar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, yang sangat tajam mengupas sifat manusia Indonesia, mengutip sebuah pantun lawas dari Minangkabau.
Ke teluk sudah
Ke gunung sudah
Ke Mekah saja yang belum
Memeluk sudah
Mencium sudah
Menikah saja yang belum

Budayawan yang berjuluk wartawan jihad itu, sepertinya hendak mengkhabarkan bahwa praktik seks bebas, jauh-jauh hari telah terjadi di negeri ini. Dan itu terekam dalam jejak pantun yang dikutipnya. Secara telak, Mochta Lubis, merontokkan pendapat sebagian orang yang mengatakan seks bebas bukanlah budaya manusia ndonesia.

Tanpa bermaksud mengabaikan persoalan moral, selayaknya seks dilihat sebagai fakta sosial. Sehingga kacamata yang hitam putih dalam melihat praktik seksualitas di sekitar kita, perlu segera ditukar dengan dengan kacamata yang lebih berwarna dengan cara berpikir yang terbuka.

Perilaku seksual manusia sebenarnya merupakan fenomena yang beragam, baik secara geografis, konteks sosial budaya, kegiatannya, dan bahkan dipersepsikan berbeda antar individu.

Aktivitas seksual individu terkait dengan faktor internal dan eksternal. Karenanya bicara soal seks, perlu pemahaman yang utuh atas seksualitas. Tidak memfokuskan pembahasannya hanya pada fenomena level individual, sebagai unit analisis karena perilaku seksual bukanlah perilaku individual, selalu membutuhkan kehadiran orang lain, minimal satu orang. Pun bahkan saat seseorang masturbasi ia juga membutuhkan ”kehadiran” yang lain. Jadi, perilaku seksual merupakan perilaku sosial, karena :

  • Melibatkan negosiasi dan interplay
  • Kompromi pengharapan dan pengalaman antar individu yang terlibat
  • Kemitraan seksual atau dyadic sebagai unit paling esensial dalam studi seksualitas.
  • Selalu membutuhkan”kehadiran” yang lainnya.

Karenanya, berbicara soal seksualitas selayaknya tidak lagi terjebak pada orientasi faktor biologis dan psikologis. Tapi lebih menekankan pada dimensi-dimensi sosial, eksternal, relasional dan dimensi publik.

Ada tiga pisau analisis yang dapat kita gunakan untuk membedah seksualitas sebagai fenomena sosial : (1) Sripting Theory, (2) Choice theory, dan (3) Network Theory.

Dari ketiga teori tersebut di atas, mari kita mencoba menggunakan pisau analisis scripting theory ; penjelasan atas sexsual content. Pendekatan ini berangkat dari kritik atas cara pandang yang semata-mata menganggap faktor sosial sebagai penghambat kecenderungan seksual. Ortner and Whithead serta Herdt and Stoller berujar bahwa proses sosial budaya berperan sangat mendasar dalam mempengaruhi persepsi kita akan seksualitas dan bagaimana kita mengkonstruksikan dan menafsirkan fantasi dan pandangan-pandangan seksual kita. Faktor biologi hanya berpengaruh kecil atas perilaku seksual.
Beberapa asumsi dasar :

  • Perilaku seksual cenderung ‘lokalitas’
  • Perilaku manusia bukan karena dorongan insting biologis, tetapi lebih karena pengaruh budaya (skenario budaya)
  • Pola perilaku seksual merupakan hasil proses akulturasi dengan budaya yang dianutnya.
  • Perilaku seksual bukan semata demi tuntutan sekenario budaya, tetapi juga dimungkinkan telah termodifikasi sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu.

Berdasarkan empat prinsip di atas, skenario seksual memfokuskan diri pada perbincangan sebagai berikut :

  • Dengan siapa individu berhubungan seks
  • Kapan dan dimana
  • Apa yang seharusnya mereka lakukan
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut

Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, tak hanya dikaitkan dengan skenario individu, namun selalu dikaitkan dengan skenario budaya. Pemahaman atau keyakinan individu menyangkut domain seksualitasnya berdasar seknario budaya.

Kata kuncinya adalah adanya hubungan timbal balik antara individu dengan aktor-aktor yang merepresentasikan budaya kehidupan seksual seperti media massa, tokoh agama, pendidik, peneliti, aktivis LSM, pun bahkan para pesohor dari dunia hiburan dan seterusnya yang secara kontinyu mereproduksi serta mentransformasi kehidupan seksual di masyarakat.

Sekadar contoh : Promosi penggunaan kondom dalam aktifitas seksual sebagai bagian dari kegiatan pencegahan penyebaran HIV dan AIDS perlu pengkondisian adanya perubahan skenario tentang perilaku seksual individu. Jika sejumlah orang bersikap positif atas skenario baru, tentunya akan berpengaruh pada kesehatan seksual, termasuk menurunkan kasus unwanted pregnancy, aborsi, penyebaran IMS, HIV dan AIIDS.

Secara singkat, prespektif ini secara tegas membedakan antara (1) Skenario budaya (2) Skenario antar pribadi (3) Skenario pribadi (makna individual atas interpretasi dari skenario budaya) yang kemudian ketiga skenario itu dihubungkan satu dengan yang lainnya. Sumbangan penting dari pendekatan ini adalah perlunya membedakan antara persepsi dan perilaku yang terkait dengan faktor kondisional/situasional.

Jadi, bicara seksualitas bukan sekadar soal gaya 69, doggy style, mandi kucing dan besar kecilnya alat vital. Bukan. Walaupun ada kalanya itu memang lebih menarik dibicaran hehehe....